Mata terasa lelah mengeluarkan cairan darah, mulut terasa sulit tuk di katupkan, dan hati pun terasa terbelah saat mencium aroma kematian yang engkau pancarkan .
Engkau berjalan diantara pilar kesederhanan, kau taburkan aroma mawar kesejukan dan kan titipkan perjuangan dalam senandung kebisuan tuk menadai titik akhir perjalan kehidupanmu.
Kau pergi teman dalam taburan bunga keindahan, dan kau pergi dengan kalungan lingkaran kesucian.
Teman akan kah kita berjumpa pada akhir jalan penderitana dalam negri tidak berpri kemanusiananm, namun hanya sebuah kata dan duka yang bisa ku serakan tuk melepaskan akhir sebuah perjalanan.
Kini hayalah tingal sebuah kedukaan, akankah aku juga harus pergi dari negri tak berpri kemanusian tuk lari dari perjaungan namun bayangan-bayang kemenagan telah kau muculkan agar perjuangan terus diglorakan.
Selamat jalan teman, tidurlah dalam senyuman karna hari esok yang baik telah kau glorakan …..
Arsip untuk Mei, 2008
“Tuk Sohibku Made”
Mei 7, 2008Bimbang
Mei 7, 2008Bayangan pajar pembebasan datang dengan tenang, meghampiri ku dikala malam, mata terpejam dengan mulut mengeram, dan hati bergetar penuh kebimbangan, akan kah kuhadapi ini….
Namun hati ku berbisik dengan nada lirih mengatakan akan kah engkau diam dikala negeri ini dalam duka, akan kah kau diam dikala para petani megeluh sengsanra dan akan kah kau tetap diam dikala manusia saling mendera…..
Aku masih saja terdiam dan mengeram tanpa kata dan dalam ketidak berdaya, waktu terus berlalu jam pun terus berputar dan ayam jantan pun berkokok, mata ku masih saja tepejam namun pikiran ku melayang merenungkan sebuah makna dimana aku saat ini berada, dan akankah pajar itu ada. agar kelak hidup kita tidak lagi dalam negri yang menohok kekelaman belaka
Doa
Mei 6, 2008Bayang jiwaku berkata dalam kebenaran dan dipayungi, payung dari rajutan benang bertinta keserakahan dalam ungakapan penyesalan diatas negri yang hidup dengan dalih pembenaran kebiadapan.
Ragaku mengenakan jubah kemelaratan dalam lengangan jalan derita, dan ku nayikan lagu angkara murka dalam bentuk makian belaka terhadap negri yang penuh hina.
Aku merasa bukan manusia di negri tidak menghargai nyawa, tapi aku hanyalah binatang hina lahir dari hasrat manusia dalam negri dengan kecacatan jiwa dan pertentagan raga.
aku juga bukan sang dewata dalam tulisan bahasa surga yang selalu dinyayikan dalam negri ini, tetapi aku hanyalah sebuah manusia yang merinduakan belaiyan nyata dari sebuah negara yang melindungi raga dan jiwa dalam keseimbangan dunia.
kedewaan
Mei 5, 2008kedewaan
Bayang jiwaku berkata dalam kebenaran dan bertopengkan keangkuhan diatas dalih keputusasaan dalam hapalan dunia kemanusiaan, dengan dipayungi dengan garisan tinta kebiadaban diterjemahkan dalam ungakapan penyesalan diatas dalih kebenaran kemanusiaan.
Aku bertopengkan nurani mengatas namakan nayian jiwa dalam bentuk lengangan jalan dewa merasa menderita, aku kenakan jubah dewata dan bermahkotakan duri angkara murka diistana rumah tua dari dedaunan tujuh rupa didunia penuh hina.
Kini Aku bukan pengembara mengunakan unta di alam tidak bernyawa, tapi aku hanya binatang hina lahir dari nafsu dunia dengan kecacatan jiwa dalam pertentang raga, dan aku juga bukan sosok dewata dalam tulisan bahasa surga disampaikan dalam dunia melalui sebuah rupa manusia tertulis dalam tinta dunia, tetapi aku hanyalah manusia yang merinduakan belayan surga dengan syair manusia, dalam rupa binatang hina di dunia malapetaka.