Bayang jiwaku berkata dalam kebenaran dan dipayungi, payung dari rajutan benang bertinta keserakahan dalam ungakapan penyesalan diatas negri yang hidup dengan dalih pembenaran kebiadapan.
Ragaku mengenakan jubah kemelaratan dalam lengangan jalan derita, dan ku nayikan lagu angkara murka dalam bentuk makian belaka terhadap negri yang penuh hina.
Aku merasa bukan manusia di negri tidak menghargai nyawa, tapi aku hanyalah binatang hina lahir dari hasrat manusia dalam negri dengan kecacatan jiwa dan pertentagan raga.
aku juga bukan sang dewata dalam tulisan bahasa surga yang selalu dinyayikan dalam negri ini, tetapi aku hanyalah sebuah manusia yang merinduakan belaiyan nyata dari sebuah negara yang melindungi raga dan jiwa dalam keseimbangan dunia.